Anak Rapuh Dengan Mental Baja Dan Prestasi Mengagumkan
Bagaimana tidak? Miyuki Inoue, dilahir dengan berat hanya 500 gram (seperenam dari berat bayi normal) dan buta, badan sakit-sakitan, sering dihina dan diremehkan oleh orang-orang sekitarnya, memenangkan Lomba Mengarang Tingkat Nasional dan Lomba Debat Nasional Jepang (1999), serta menerima Penghargaan Pendidikan Kebudayaan Fukuoka (2000).
Sewaktu baru lahir kepalanya sebesar telur ayam, jari-jari sebesar korek api, dan pinggulnya sebesar jari kelingking orang dewasa sehingga dokter yang merawatnya meramalkan dia hanya akan bertahan selama 3 hari. Akan tetapi, Miyuki bisa bertahan sampai sekarang menjadi Mahasiswa Ilmu Keperawatan (2003) dan bercita-cita menjadi pekerja social di Panti Jompo.
Ibu Miyuki (Michiyo Inoue) mendidik Miyuki dengan sangat keras dan disiplin seperti anak normal. Dia tidak segan-segan membiarkan Miyuki belajar naik sepeda sendiri walaupun sampai empat-puluh kali jatuh dan berdarah tanpa membantunya untuk berdiri dan meraih stang sepeda. Miyuki kadang menyebut ibunya syetan karena pernah dalam kondisi sakit lambung parah Miyuki harus tetap berangkat sekolah, sampai-sampai di ingin bunuh diri (Hal. 127).
Ibunya akan berkata “Karena kamu buta, maka kamu harus berusaha beberapa kali lipat lebih keras dari orang lain”. Selain itu, Miyuki tidak boleh berkata “tidak bisa”, Ia harus mencoba terlebih dahulu karena tidak ada sesuatu yang mustahil sebelum dicoba (Hal. 47). Ya, dengan tetesan keringat dan juga airmata Miyuki berhasil. Selain prestasi akademis, dalam kehidupan sehari-hari-pun Miyuki sangat mandiri dan percaya diri; seperti berangkat sekolah sendiri, menaiki sepeda, melakukan pekerjaan rumah, dan mencoba sesuatu yang baru.
Setelah membaca buku ini, pembaca (apalagi yang mempunyai panca indra lengkap) akan sangat malu mudah jika mengeluh dan pasrah dengan kondisi hidup tanpa berusaha untuk mencoba hal-hal baru dan memandang masa depan secara positif. Penulis menggambarkan melalui pengalaman hidupnya bahwa siapapun dapat berhasil jika berusaha keras tanpa takut untuk mencoba.
Keterbatasan bukan menjadi halangan untuk sukses akan tetapi motivator utama karena telah terbukti bahwa tunanetra-pun bisa berprestasi, seperti halnya Thomas Alva Edison yang tunarungu sebagai penemu berbagai alat dengan lebih dari 1000 hak paten, serta Gisca Sahetapi (Putri dari pasangan artis Rae Sahetapi dan Dewi Yull) yang tunawicara dan tunarungu dengan prestasinya sebagai pelukis.
“Pendidikan adalah Jalan Keluar” itulah perkataan Chris Gardner, seorang pengusaha Negro sukses dari Amerika Serikat yang sebelumnya seorang tunawisma tanpa pekerjaan dalam sebuah wawancara dengan Oprah Winfey (Metro Tv, 2 Juni 2007). Ibu Miyuki sudah menerjemahkan perkataan tersebut dalam menyiapkan masa depan Miyuki. Sudahkah orang Indonesia melakukannya?
Sumber : Miyuki Inoue, Aku Terlahir 500 Gram dan Buta. PT. Elex Media Komputindo, cetakan 4 / 2007. Penerjemah : Tiwuk Ikhtisari
Sewaktu baru lahir kepalanya sebesar telur ayam, jari-jari sebesar korek api, dan pinggulnya sebesar jari kelingking orang dewasa sehingga dokter yang merawatnya meramalkan dia hanya akan bertahan selama 3 hari. Akan tetapi, Miyuki bisa bertahan sampai sekarang menjadi Mahasiswa Ilmu Keperawatan (2003) dan bercita-cita menjadi pekerja social di Panti Jompo.
Ibu Miyuki (Michiyo Inoue) mendidik Miyuki dengan sangat keras dan disiplin seperti anak normal. Dia tidak segan-segan membiarkan Miyuki belajar naik sepeda sendiri walaupun sampai empat-puluh kali jatuh dan berdarah tanpa membantunya untuk berdiri dan meraih stang sepeda. Miyuki kadang menyebut ibunya syetan karena pernah dalam kondisi sakit lambung parah Miyuki harus tetap berangkat sekolah, sampai-sampai di ingin bunuh diri (Hal. 127).
Ibunya akan berkata “Karena kamu buta, maka kamu harus berusaha beberapa kali lipat lebih keras dari orang lain”. Selain itu, Miyuki tidak boleh berkata “tidak bisa”, Ia harus mencoba terlebih dahulu karena tidak ada sesuatu yang mustahil sebelum dicoba (Hal. 47). Ya, dengan tetesan keringat dan juga airmata Miyuki berhasil. Selain prestasi akademis, dalam kehidupan sehari-hari-pun Miyuki sangat mandiri dan percaya diri; seperti berangkat sekolah sendiri, menaiki sepeda, melakukan pekerjaan rumah, dan mencoba sesuatu yang baru.
Setelah membaca buku ini, pembaca (apalagi yang mempunyai panca indra lengkap) akan sangat malu mudah jika mengeluh dan pasrah dengan kondisi hidup tanpa berusaha untuk mencoba hal-hal baru dan memandang masa depan secara positif. Penulis menggambarkan melalui pengalaman hidupnya bahwa siapapun dapat berhasil jika berusaha keras tanpa takut untuk mencoba.
Keterbatasan bukan menjadi halangan untuk sukses akan tetapi motivator utama karena telah terbukti bahwa tunanetra-pun bisa berprestasi, seperti halnya Thomas Alva Edison yang tunarungu sebagai penemu berbagai alat dengan lebih dari 1000 hak paten, serta Gisca Sahetapi (Putri dari pasangan artis Rae Sahetapi dan Dewi Yull) yang tunawicara dan tunarungu dengan prestasinya sebagai pelukis.
“Pendidikan adalah Jalan Keluar” itulah perkataan Chris Gardner, seorang pengusaha Negro sukses dari Amerika Serikat yang sebelumnya seorang tunawisma tanpa pekerjaan dalam sebuah wawancara dengan Oprah Winfey (Metro Tv, 2 Juni 2007). Ibu Miyuki sudah menerjemahkan perkataan tersebut dalam menyiapkan masa depan Miyuki. Sudahkah orang Indonesia melakukannya?
Sumber : Miyuki Inoue, Aku Terlahir 500 Gram dan Buta. PT. Elex Media Komputindo, cetakan 4 / 2007. Penerjemah : Tiwuk Ikhtisari





terkadang kita sering mengeluh, lupa mensyukuri bahwa kita punya 2 tangan yang mampu bergerak normal, 2 buah kaki yang bisa membawa kita ke mana-mana, 2 buah mata yang mampu melihat, dua buah telinga untuk mendengar, dsb...
wah memang, di balik sebuah kelemahan pasti ada kekuatan yang tersembunyi .... cool posting :)
duhh... diriku kan mang tegar n mental baja???
kwakakakakk :D
kadang kita malu sebagai manusia normal tapi minim prestasi, sedangakan mereka yg terlahir cacat mampu memberika prestasi terbaiknya yg belum tentu bisa kita lakukan
cuma ada satu kata u/ anak ini
kereeeeeeeeeeen...
yang pasti walau cacat tetep dong menolehkan prestasi
semangat!!!
Salut buat ibu Miyuki.. Perjuangan seorang ibu yang tanpa putus asa meski kondisi anaknya yang tidak normal..
bisa jadi inilah keadilan Tuhan, mas. ketika seseorang ditakdirkan dalam keadaan cacat dan tidak normal, Tuhan menganugerahinya dg kelebihan di bidang yang lain.
artikel yg bagus bgt sob...
kita ambil baiknya untuk membuat hidup kita lebih maksimal
two thums up :salute!!!:
@all : makasih semua coment2nya..Memang seharusnya kita dapat mengambil hikmahnya, walupun kita tidak sempurna namun dengan semangat dan berpikir positif maka prestasi-pun bisa kita raih..
qt lbih smgat sperti Miyuki. dy bisa, apalagi qt.
qt hrs semangat 45. brjuang smpai titik darah penghabisan.
merdeka merdeka merdeka jiwa qt raga qt.
qt ingin mlakukan yg terbaik dlm mlakukan smua'a.
Ayo...!Semangat! contohlah Miyuki yang selalu tegar!^_^
Post a Comment
Informasi Pilihan Identitas untuk komentar :
Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Name/Url : Gunakan ini untuk Nama. Url tak diisi gak apa2