Keluarga TOT | Sebuah Lakon Hongaria
Itulah judul pementasan dari Teater Gandrik yang berlangsung di TBY (Taman Budaya Yogyakarta) Tadi malam (30/04/09) yang saya tonton. Sebenarnya saya sih tak berencana untuk menonton pementasan teater tsb, namun berhubung di gratisin *dasar gak Modal* dan Pemain-pemainnya terkenal2 apa boleh baut, langsung deh meluncur ke TKP..:)).
Yaps bener, seperti yang saya bilang tadi, teater Gandrik yang terbentuk sekitar tahun 1985 memang sudah terkenal dan pemain2nya juga, Antara lain Butet kartaredjasa, Djaduk ferianto, den baguse ngarso dan pemain2 terkenal lainnya.
Sekilas tentang group teater Gandrik, ini dikenal sebagai kelompok teater yang mengolah bentuk "teater sampakan". Sampakan??? apaan tuh.. dulu saya juga gak tahu, namun setelah membaca dari buku sekilas teater gandrik yang dibagiin di TBY pahamlah diri ini. Jadi sampakan itu pertama kali di sebutkan oleh bapak kirjomulyo (juri teater) yang mengatakan bahwa jenis teater sampakan adalah teater yang menggunakan instrument gamelan sebagai ciri ketika pemainnya keluar masuk adegan. Istilah "sampakan" mengacu pada gending sampak, yakni komposisi gamelan yang riang yang memang banyak di pakai dalam ketoprak.
Dan mengenai pementasan semalam yang mengangkat tema "Keluarga TOT | Sebuah Lakon Hongaria" adalah adaptasi dari salah satu karya agung yang pernah dihasilkan oleh Istvan Orkeny, dimana drama terkenal ini ditulis di abad 20 tepatnya era 60an, pada masa dimana Eropa Timur dan Tengah sangat mirip dengan era Soeharto.

Kisah keluarga Tot ini berlatar belakang suasana perang yang muram, dengan setting historis Perang Dunia II. Dalam suasana sperti itu, keluarga Lajos Tot kedatangan seorang mayor, yang ingin menginap di rumahnya. Sang Mayor memerlukan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Mau tak mau, lajos menerima mayor itu, karena Sang mayor adalah atasan anaknya yang menjadi prajurit dan sedang bertempur. Mariska Tot, sang ibu, berharap agar mayor itu terkesan dan betah selama masa beristirahat, hingga bisa mempermulus karier anaknya dikemiliteran.
Para tetangga pun di beritahu, dan diminta untuk ikut menerima kedatangan sang mayor. Karena sang mayor memang menginginkan ketenangan, yang intinya semua orang harus menyesuaikan kebiasaan sang mayor. Mereka harus merubah "rutinitas hidup mereka" dan menyesuaikannya dengan kebiasaan sang mayor. Kebiasaan jam tidur harus menyesuaikan jam tidur mayor, cara mereka menguap, menggeliat, cara mereka makan. Semua harus menyenangkan dan menyesuaikan kebiasaan mayor. Lajos Tot dan keluarga menjadi asing di rumahnya sendiri, tetapi mereka harus menerima keasingan itu sebagai kenyataan yang harus mereka terima.
Dan kesimpulan kisah diatas, Nasib keluarga Tot boleh jadi adalah nasib kita hari ini, yang dipaksa menerima keadaan yang sesungguhnya tidak kita sukai. Poster caleg yang menyebalkan saat pemilu kemarin yang setiap hari harus kita lihat. Para pemimpin yang sibuk minta kita perhatikan sementara tak seupil pun mereka pernah memperhatikan kita. Kita terpaksa mendengarkan apa yang tidak ingin kita dengarkan. Kita menerima keadaan yang rasanya kita tak kuasa menolaknya. Begitulah, lakon ini bisa menjadi satir sosial, tentang masyarakat yang nyaris tanpa pilihan, dan terpaksa menerima keadaan.
Yaps bener, seperti yang saya bilang tadi, teater Gandrik yang terbentuk sekitar tahun 1985 memang sudah terkenal dan pemain2nya juga, Antara lain Butet kartaredjasa, Djaduk ferianto, den baguse ngarso dan pemain2 terkenal lainnya.
Sekilas tentang group teater Gandrik, ini dikenal sebagai kelompok teater yang mengolah bentuk "teater sampakan". Sampakan??? apaan tuh.. dulu saya juga gak tahu, namun setelah membaca dari buku sekilas teater gandrik yang dibagiin di TBY pahamlah diri ini. Jadi sampakan itu pertama kali di sebutkan oleh bapak kirjomulyo (juri teater) yang mengatakan bahwa jenis teater sampakan adalah teater yang menggunakan instrument gamelan sebagai ciri ketika pemainnya keluar masuk adegan. Istilah "sampakan" mengacu pada gending sampak, yakni komposisi gamelan yang riang yang memang banyak di pakai dalam ketoprak.
Dan mengenai pementasan semalam yang mengangkat tema "Keluarga TOT | Sebuah Lakon Hongaria" adalah adaptasi dari salah satu karya agung yang pernah dihasilkan oleh Istvan Orkeny, dimana drama terkenal ini ditulis di abad 20 tepatnya era 60an, pada masa dimana Eropa Timur dan Tengah sangat mirip dengan era Soeharto.

Kisah keluarga Tot ini berlatar belakang suasana perang yang muram, dengan setting historis Perang Dunia II. Dalam suasana sperti itu, keluarga Lajos Tot kedatangan seorang mayor, yang ingin menginap di rumahnya. Sang Mayor memerlukan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Mau tak mau, lajos menerima mayor itu, karena Sang mayor adalah atasan anaknya yang menjadi prajurit dan sedang bertempur. Mariska Tot, sang ibu, berharap agar mayor itu terkesan dan betah selama masa beristirahat, hingga bisa mempermulus karier anaknya dikemiliteran.
Para tetangga pun di beritahu, dan diminta untuk ikut menerima kedatangan sang mayor. Karena sang mayor memang menginginkan ketenangan, yang intinya semua orang harus menyesuaikan kebiasaan sang mayor. Mereka harus merubah "rutinitas hidup mereka" dan menyesuaikannya dengan kebiasaan sang mayor. Kebiasaan jam tidur harus menyesuaikan jam tidur mayor, cara mereka menguap, menggeliat, cara mereka makan. Semua harus menyenangkan dan menyesuaikan kebiasaan mayor. Lajos Tot dan keluarga menjadi asing di rumahnya sendiri, tetapi mereka harus menerima keasingan itu sebagai kenyataan yang harus mereka terima.
Dan kesimpulan kisah diatas, Nasib keluarga Tot boleh jadi adalah nasib kita hari ini, yang dipaksa menerima keadaan yang sesungguhnya tidak kita sukai. Poster caleg yang menyebalkan saat pemilu kemarin yang setiap hari harus kita lihat. Para pemimpin yang sibuk minta kita perhatikan sementara tak seupil pun mereka pernah memperhatikan kita. Kita terpaksa mendengarkan apa yang tidak ingin kita dengarkan. Kita menerima keadaan yang rasanya kita tak kuasa menolaknya. Begitulah, lakon ini bisa menjadi satir sosial, tentang masyarakat yang nyaris tanpa pilihan, dan terpaksa menerima keadaan.






Post a Comment
Informasi Pilihan Identitas untuk komentar :
Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Name/Url : Gunakan ini untuk Nama. Url tak diisi gak apa2